Ramadan, Aku Siap!

Huaaa, after hibernasi hampir tiga mingguan akhirnya aku menorehkan tinta lagi disini. Anw, aku ikut khawatir dengan kondisi Indonesia bahkan dunia yang dikacaukan dengan pandemi Covid-19 ini, aku ikut merasakan jenuhnya #dirumahaja, ikut merasakan pusingnya reschedule penerbangan ke beberapa negara yang sudah aku dan suami jadwalkan di #2020aroundtheworld kami, but its oke, keselamatan lebih penting dari sekedar jalan-jalan.

Banyak dari kita yang terlalu fokus dengan berita Covid-19 yang menguasai semua media, di televisi, twitter, instagram, sampai broadcast whatsapp. Sampai-sampai mungkin kita lupa bahwa kurang dari sebulan lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadan, in syaa Allaah.

Tulisanku kali ini bermula dari pertanyaan suami waktu santai diruang tengah sambil menikmati Panna Cotta kesukaan dia, dia tanya; Ramadan tinggal hitungan hari, persiapanmu sudah berapa persen?

Pertanyaan dia bukan ‘kamu sudah siapin apa untuk Ramadan nanti?’, karena dia tau persis apa yang sedang aku persiapkan dan bagaimana aku mempersiapkannya dari beberapa waktu kemarin. Nah, jadi kali ini aku mau berbagi apa saja yang perlu dipersiapkan untuk memasuki bulan Ramadan.

Peristiwa Penting Yang Berlaku Dalam Sejarah Umat Islam Pada Bulan ...
(Sumber: google)

Tanamkan rasa gembira suka cita.
Menurutku ini hal utama, rasa gembira bikin aku semangat untuk mempersiapkan segala hal, apa-apa yang dilakuin saat hati gembira niscaya kita akan sungguh-sungguh ngelakuinnya. Lagian siapa sih yang nggak gembira? Kalau Ramadan-kan bisa silaturahmi dengan teman lama di acara buka bersama, bisa ngabuburit sambil cari bakwan goreng panas, bisa nonton acara Ramadan di TV, aku juga happy banget kok kalau ingat-ingat kebiasaan itu. Tapi gembira yang aku maksud bukan soal semua yang aku sebut barusan, ada makna Ramadan yang lebih indah dari itu semua, ada banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah yang harus kita raih. Kesempatan itu sebentar lagi datang loh, senang nggak sih kalian? Please jawab!

Perbanyak doa.
Meski ia sudah ada di depan mata, tapi belum tentu kita bisa menikmati indahnya, belum tentu bisa menikmati lezatnya bermunajat ditengah syahdunya malam, belum tentu bisa berlomba untuk hatam Al Qur’an ditengah ibadah-ibadah yang lain, belum tentu kita bisa bertemu dengan tamu agung itu. Mintalah, minta pada Allaah untuk dipertemukan dengan bulan Ramadan, karena bisa saja usia kita usai dimalam terakhir Sya’ban, tanpa kita bisa merasakan lagi nikmat Ramadan. Mintalah dengan sungguh-sungguh. Mintalah dengan menangis. Mengiba.

Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allaah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allaah menerima amal-amal shalih di Ramadan yang lalu.

Membayar hutang puasa.
Tahun lalu aku full nggak puasa karena mengambil keringanan yang Allaah tawarkan kepada ibu menyusui, waktu itu usia bayiku masih 3 bulan, jadi masih sangat butuh ASI eksklusif setiap jam. Alhamdulillaah aku sudah membayarnya dengan fidyah, semoga Allaah menerima ibadahku. Teman-teman yang belum membayar, yuk tuntaskan!

Belajar puasa lagi.
Khusus aku pribadi, kemarin-kemarin masih takut untuk puasa lagi karena si toddler masih butuh ASI sampai saat ini. Akhirnya sejak beberapa bulan kemarin aku coba latihan puasa untuk cari tahu kualitas ASIku saat berpuasa dan apakah puasa mempengaruhi nutrisi untuk si toddler. Alhamdulillaah, alhamdulillaah banget pokoknya, aku cuma rasain lemes-lemes dikit aja, toddlerku tetap happy, setelah aku pumping kuantitas ASIku nggak berkurang, foremilk dan hindmilknya tetap bagus. Semoga nanti saat Ramadan aku lebih siap! Tapi nggak memaksakan kok, karena sejatinya aku masih punya hak keringanan dari Allaah.

Yuk perbanyak puasa di bulan Sya’ban ini, supaya kita lebih siap untuk puasa Ramadan nanti.

Aisyah Radhiallaahu ‘Anha, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallaahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallaahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih baik fokus perbanyak ibadah puasa di bulan Sya’ban ini dibanding harus repot-repot adakan acara Nisfu Sya’ban, karena menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan Nisfu Sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu).

Belajar bangun tengah malam untuk Qiyamul Lail.
Jujur persiapan ini penting banget, apalagi untuk seorang istri dan ibu baru, harus pintar-pintar atur waktu tidur dan bangun. Jangan sampai tubuh kita kaget dalam menghadapi rutinitas baru, nanti malah sakit dan lemas sepanjang hari. Bangun jam dua pagi untuk Qiyamul Lail, ngaji, siapin santap sahur, sholat subuh, eh si toddler bangun, rebahannya kapan? Makanya untuk hadapi itu semua aku butuh latihan, kamu juga ya! Yuk mulai hari ini, pasang alarm!

Perbanyak baca Al Qur’an.
Pasti teman-teman punya target Ramadan, kan? Sama, aku juga. Tapi harus punya strategi ya. Kalau strategi yang sudah aku jalani dari tahun ke tahun adalah di waktu Sya’ban aku tuntaskan dulu bacaan Al Qur’anku, lalu mulai dari Juz 1 lagi. Nggak perlu nunggu 1 Ramadan untuk mulai dari Juz 1, karena kita wanita yang ada masa haidnya dan nggak bisa baca Al Qur’an, maka dari itu bacaan Al Qur’annya sudah aku cicil dari bulan Sya’ban.

Untuk baca Al Qur’an setiap hari dibulan Ramadan, biasanya aku cicil setiap selesai sholat wajib dan sunnah. Tapi untuk kali ini, jujur waktuku sedikit terkuras untuk temani toddler wara wiri kesana kemari, aku masih cari-cari strategi untuk atur waktu supaya tetap bisa hatam sebelum Ramadan usai. Doakan ya!

Peka terhadap adzan.
Belajar peka terhadap adzan, biar nggak ‘ntar dulu-ntar dulu’. Nggak bisa cakap panjang lebar soal sholat, karena ya nggak perlu nunggu Ramadan dulu untuk bisa terbiasa sholat awal waktu. Iya kan?

Atur finansial sebaik mungkin.
Bukan, bukan untuk ongkos mudik, persiapkan dana lebih untuk infaq, sedekah, berbagi makanan berbuka, dan berzakat. Yuk pintar atur pengeluaran bulan ini mumpung lagi #dirumahaja, dana yang biasa dipakai jajan dan beli bensin lebih baik kita alokasikan untuk infaq di bulan Ramadan nanti. Pahalanya besar, loh!

Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘Anhu berkata, ”Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Persiapkan fisik dan kesehatan.
Alhamdulillaah, sejak satu bulan yang lalu aku mulai rutin workout lagi setelah berbulan-bulan tenggelam dalam kemalasan, matras yang sudah berdebu digudang akhirnya dipakai lagi. Setelah workout atau aerobic di dalam rumah, aku rutin makan buah untuk vitamin dan stamina setiap hari. Sejak 10 hari yang lalu aku mulai rutin minum air jahe madu lemon, minum seduhan safron, makan kurma, sayur-sayuran hijau, ayam, ikan, telur (soalnya ada mama lagi nginep jadi aku lagi perbaikan gizi niiii huhu).

Selain untuk persiapan Ramadan, kegiatan fisik diatas juga sebagai bentuk ikhtiar aku untuk membentengi diri dari virus Covid-19 yang nakal itu.


Sudah, itu saja. Persiapanku belum sepenuhnya matang, masih perlu aku persiapkan lagi dan lagi, paling tidak kalau usiaku nggak sampai pada Ramadan nanti, Allaah tau betapa aku menginginkan manisnya Ramadan dan tau betapa aku berusaha untuk maksimal di Ramadan kali ini.

Semoga textku kali ini bisa dijadikan referensi teman-teman untuk mempersiapkan diri ya, semoga Allaah mempertemukan kita semua dengan bulan Ramadan yang bersih tanpa Covid-19. Aamiin Ya Rabbal ‘Alaamiin.