Parenting: Fase Perkembangan Anak (Versi Shanum)

Seringkali aku dibuat takjub dengan perkembangannya, aku hampir lupa, ternyata Shanum bukan bayi lagi, usianya sekarang sudah jalan 14 bulan. Giginya sudah kuat untuk kunyah ayam goreng, kakinya sudah kuat untuk berlari main kejar-kejaran, tangannya sudah bisa gotong-gotong tempat kerupuk yang lebih besar dari tubuhnya, dan baru-baru ini aku dikejutkan dengan cara dia naik ke sofa sendirian. Iya, sendirian, tanpa dibantu.

Bagaimana cara Shanum naik ke sofa? Begini kronologinya. Jadi suamiku taruh tool box di sebelah sofa, kira-kira jaraknya sekitar 30 cm dari sofa, ternyata tool box itu digeser pelan-pelan pakai tangan mungilnya (padahal cukup berat karena isinya perintilan bengkel), setelah posisinya berdempetan dengan sofa, dia injak tool box itu, kakinya jinjit-jinjit seperti mau meraih sesuatu, lalu kakinya naik satu ke atas sofa, disusul kaki satunya lagi, dan HAP akhirnya dengan sekuat tenaga dia berhasil naik ke atas sofa, nggak lupa dia tampilkan wajah cerianya karena bisa acak-acak bantal sesuka hati.

Melihat jelas kejadian itu bikin aku bertanya-tanya, apakah anakku sudah melewati satu fase dan sekarang sedang ada di fase yang lainnya? Fase apa yang sekarang sedang Shanum lalui? Nah, kali ini aku mau share beberapa teori psikologi tentang perkembangan anak yang menjadi acuanku untuk membersamai dia sepanjang hari.

Shanum selalu nyamperin aku setiap aku mulai baca Al Qur’an, dia selalu duduk dipangkuanku

Karakteristik anak 14 bulan atau dibawah dua tahun

Tahapan perkembangan psikososial menurut Eric Erickson: Perkembangan psikososial terdiri dari 8 fase, aku hanya akan bahas fase yang sudah dan sedang dilalui oleh Shanum. Saat ini Shanum sedang ada di fase akhir trust vs mistrust dan sedang memulai fase autonomy vs shame and doubt. Aku breakdown ya!

Fase trust vs mistrust adalah fase pertama yang dilalui seorang bayi, pada fase ini ia sangat menggantungkan semua kebutuhan kepada ibunya, sehingga membuat bayi akan merasa aman saat berdekatan dengan sang ibu. Saat fase ini berlangsung, kita para ibu mungkin akan kewalahan, si bayi maunya nempel terus sama kita, digendong, diayun, ditimang, dinyanyikan, diajak bicara. Pada saat itulah kenyamanan, kedekatan sosial dan rasa percaya terbentuk.

Lalu kapan mistrust akan muncul? Saat bayi merasa diabaikan, nggak disayang, nggak dicintai, nggak diperhatikan. Simpel aja, bisa jadi mistrust sesaat akan muncul saat kita lagi di toilet, mandinya kelamaan tapi si bayi udah nangis-nangis minta mimik cucu atau sekedar minta digendong. Mistrust muncul saat bayi merasa dirinya sedang nggak aman, nggak nyaman. Hati-hati kalau keseringan bikin bayi merasa nggak aman dengan sikap abai kita, bisa-bisa trust sulit diciptakan. Makanya mom’s, mandinya sebentar aja huhu I feel you, kok.

Ada perbedaan rentang usia antara teori yang aku baca dari buku dan dari jurnal, ada beberapa penulis yang mengklasifikasikan trust vs mistrust terjadi di usia 0-18 bulan, dan ada juga sumber lain yang bilang fase ini terjadi di usia 0-12 bulan. Apapun itu, teori hanya sebagai gambaran, yang harus kita hadapi adalah realita perkembangan anak yang terkadang lebih cepat dari yang dibayangkan. Meskipun sekarang Shanum sudah mau dekat dengan Aba-nya, tapi tetap aja sebagian besar trustnya sudah menjadi milikku, dan aku bangga.

Waktu usianya 13 bulan, aku perhatikan Shanum mulai merasa ingin melakukan apa-apa sendiri, seperti ingin minum dengan gelas sendiri tanpa dibantu, ingin pakai sepatu sendiri dan menolak bantuan, ingin pakai minyak telon sendiri, mandi sendiri di balon mandinya, bahkan nyapu halaman rumah sendiri. Aku pikir dia mulai ada di fase autonomy vs shame and doubt, meskipun fase ini baru dimulai tapi aku tetap terharu, dia mulai menunjukkan kemandiriannya. Di fase ini Shanum sudah bisa disebut dengan toddler, bukan bayi lagi.

Seperti yang aku jelaskan diatas, di fase autonomy vs shame and doubt ini, toddler ingin eksplor segalanya pakai tangannya sendiri, terlihat jelas keinginannya untuk mandiri. Pinter nggak sih? Pinter dong! Maha Besar Allaah yang menciptakan karya indah seperti anak-anak kita, ya. Ayok bersyukur dulu ibu-ibu. Saat-saat fase ini terjadi, orang tua harus belajar agar bisa memberikan pengasuhan yang tepat dan mendukung aktifitas anak, dengan begitu in syaa Allaah anak-anak kita kelak akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mandiri. Jangan kebanyakan dilarang ya, apalagi sambil berkomentar negatif, misalnya ‘kamu tuh nggak bisa, sini ibu aja yang pakaikan’ atau ‘aduuuh tuhkan berantakan, makannya ibu suapin aja ya!’, bisa jadi dia akan tumbuh jadi anak yang penuh keraguan dan malu pada kemampuan yang dia miliki.

Tahapan perkembangan kognitif menurut John Piaget: Piaget membagi pekembangan kognitif menjadi 4 tahap, tahap pertama yang sedang dilalui Shanum saat ini adalah tahap sensorimotor (0-24 bulan). Di tahap pertama ini media belajar Shanum adalah alat indera, dia belajar meraba, menggenggam, merasakan sentuhan, mendorong, memukul-mukul, mendengar, menendang, menirukan. Lalu lahirlah kebisaan-kebisaan yang dia pelajari melalui alat inderanya, yaitu dia mulai bisa melempar bola, memasukkan balok sesuai dengan bentuknya, menendang bola, memeluk boneka, membawa kaleng kerupuk, menggeser tool box, meniru kata demi kata, memanggil ‘aba’ dengan sangat lantang, bisa membedakan mana orang asing dan mana orang terdekatnya.

Pada fase ini, toddler belum bisa memikirkan kebutuhan, keinginan, atau kepentingan orang lain, itulah yang disebut dengan egosentris. Egosentris adalah fase di mana anak menjadikan dirinya sebagai titik pusat pemikiran dan menilai segalanya dari sudut diri sendiri. Contoh simpelnya, Shanum nggak tau bagaimana rasanya umma nahan kebelet pipis, yang dia tau ummanya harus selalu ada disamping dia, Shanum nggak tau kalau ummanya lagi sibuk masak, yang dia tau ummanya harus selalu didepan matanya, kalau nggak ya jurus nangis dikeluarkan sekuat tenaga. Jurus nangis itu biasa kita kenal dengan tantrum. Untuk cara menjalin komunikasi anak saat tantrum akan aku bahas di lain page, ya.

Lalu apa yang harus dilakukan ibu-ibu untuk memaksimalkan potensi anak di fase sensorimotor ini? Latih mereka menggunakan semua alat inderanya dengan baik. Ajarkan mereka untuk melihat benda-benda disekitarnya, kenalkan mereka warna-warna cerah untuk menstimulasi kemampuan matanya, ajarkan mereka mendengar berbagai macam bunyi, ajarkan mereka menyentuh dan menggenggam benda dengan berbagai macam tekstur, ajarkan mereka untuk mengecap makanan dari yang lunak sampai yang crunchy, dengan begitu mereka akan terbiasa menggunakan alat inderanya dengan maksimal dan mampu melewati fase ini dengan baik. Bagaimana cara mengajarkannya? Dengan cara bermain.

Salah satu permainan yang aku buat sendiri, untuk melatih tangan, mata, kognitif dan persepsinya

Berdasarkan klasifikasi tempramen menurut Chess dan Thomas: Setiap anak memiliki tempramen. Tempramen erat hubungannya dengan emosi, sehingga tempramen diartikan sebagai cepat atau lambatnya muncul sebuah respon emosi, seberapa kuat, seberapa lama dan sebarapa cepat emosi itu hilang.

Chess dan Thomas membagi tempramen menjadi 3 klasifikasi, penting diperhatikan untuk para orang tua supaya bisa tau bagaimana triknya menghadapi anak, yaitu: easy child (biasanya anak dengan easy child akan cepat membangun relasi, suasana hatinya stabil, mudah beradaptasi dengan pengalaman baru), difficult child (biasanya anak mudah menangis, sulit beradaptasi dengan pengalaman baru, sulit diminta melakukan rutinitas), dan slow-to-warm-up child (anak ini butuh pemanasan untuk beradaptasi, suasana hatinya terkadang positif namun terkadang negatif, membuat dia terlihat cenderung lambat dalam merespon).

Berdasarkan observasiku, sejauh ini Shanum termasuk easy child, dia mudah menerima stimulus baru, mudah merespon arahan, tetapi ada masanya dia menunjukkan tempramen slow-to-warm-up. Memang untuk mengetahui tempramen anak nggak bisa langsung dinilai cepat, harus lebih jeli dan teliti menilai responnya.


Ibu-ibu, effort aku menulis ini besar sekali loh, aku mulai menulis jam 10 malam dan sekarang jam 1 pagi, ditemani setumpuk jurnal-jurnal dan buku Life Span Development dari Santrock, menulis dalam keadaan lapar dan sedang mengunyah martabak yang entah berapa kalorinya. Tapi semoga effort yg aku keluarkan seimbang dengan kebermanfaatan tulisanku kali ini untuk ibu-ibu atau calon ibu atau bahkan calon istri yang membaca. Salam 🙂