Jurus Meminta Ridho

Tulisanku kali ini berangkat dari postingan Ummu Balqis yang share petikan hikmah tentang couple goals. Seperti ini :

Kutipan diatas mengingatkan aku tentang pengalaman rumah tanggaku yang mau aku ceritakan sedikit disini, yang masih sendiri please banyak baca tentang kisah teladan para shahabiyah sebelum mengarungi hidup berumah tangga. Ini sangat penting menurutku, karena couple goals yang kita panuti sedikit banyak akan berpengaruh pada cara kita berumah tangga. Ini yang aku rasakan.

Dulu sebelum menikah, aku sedikit banyak belajar tentang kisah rumah tangga Rasulullaah Shallallaahu ‘Alayhi Wa Sallam dan para sahabat sepeninggalnya Beliau, ada satu kisah dan satu hadits yang saat itu bikin hatiku nggak sabar buat meneladaninya di rumah tanggaku kelak, yaitu kisah Abu Darda dan hadits tentang istri yang kelak tinggal di surga.

Saat itu Abu Darda menasihati Ibunda Hujaimah binti Huyay atau yang sering disapa dengan Ummu Darda, seperti ini butir nasihatnya :

‘Bila kau marah, aku akan membuatmu ridha kembali. Karena itu bila aku marah buatlah aku ridho. Kalau tidak demikian, betapa cepatnya kita akan berpisah’

Sontak aku termenung, ternyata perkara sebuah ridho seorang istri atau suami sangat berdampak besar dengan keutuhan rumah tangga. Ditambah lagi saat itu aku baca sebuah hadits yang menjelaskan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga adalah ridho suami.

Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau Ridho.” (HR. Ath Thabarani)

Dua hikmah diatas tadi jadi bekalku berumah tangga. Saat pernikahanku dan suami terjadi, ridho suami adalah hal utama buat aku karena aku mau pernikahanku Allaah ridhoi, aku mau hubungan rumah tangga kami harmonis, dan aku mau jadi istri yang tinggal disurga nanti.

Saat jadi pengantin baru, dua tahun lalu, aku sempat ngobrol sama suami tentang dua hikmah yang kubahas tadi. Tanggapan dia hangat sekali, kami sepakat untuk saling mengingatkan saat marah, menjadi air saat api sedang membara, menjadi salju diteriknya matahari, menenangkan satu sama lain. Tapi itu saat pengantin baru, beda teori beda pula praktek, aku pikir akan mudah meneladaninya. Kalau aku salah tinggal minta maaf, masalah akan selesai, oh tidak begitu esmeralda binti fernando. Pada kenyataannya suamiku tipe orang yang senang memberi pelajaran, aku harus belajar dari kesalahanku dulu, aku diajak berpikir dan diskusi tentang kesalahanku, baru dia mau maafkan.

Pernah suatu hari aku buat dia marah, maklumlah ya rumah tangga, ada marah, ada sedih, ada happy, ada cemburu, campur aduk. Saat itu usia pernikahan kami hampir setengah tahun, hmm… penyebabnya bukan karena masalah sepele sih, tapi karena memang aku melakukan kesalahan yang lumayan oke (kesalahan kok oke), jadi sangat aku wajarkan kalau dia marah.

Akhirnya untuk pertama kalinya aku coba jurus ‘meminta ridho’, aku deg-degan karena takut gagal, dan sumpeee maluuu, tapi bismillaah dengan tegang aku hampiri dia yang lagi kesal, aku ambil tangannya, dia masih cuek bebek wek wek, aku genggam tangannya dan aku ucap ‘ini tanganku ada diatas tanganmu, aku nggak akan terpejam sampai kamu ridho sama aku’, dia masih cuek banget, aku hopeless karena mikir nanti malem nggak bisa tidur karena dia belum ridho. Aku ulang lagi kalimat tadi dengan suara yang lebih lembut, seketika muka masamnya berubah jadi senyum meledek, lalu dia jawab ‘kamu baru ngapalin tadi ya kalimatnya?’, dan akhirnya kami baikan, jadi uwu-uwu lagi deh.

Itu sepenggal cerita yang biasa-biasa saja. Mau tau hal yang menurutku luar biasa? Saat aku mematahkan rasa gengsiku untuk minta maaf dan minta ridho dia PADAHAL jelas-jelas dia yang salah. Saat itu bener-bener galau, aku mikir ‘dia yang salah kok harus aku yang minta maaf, dia yang ngeselin harusnya dia yang baik-baikin aku!’, tapi semua pikiran itu aku usir jauh-jauh, aku ganti dengan ‘bismillaah, ini karena ridho suami adalah ridho Allaah’.

Tentunya sebelum minta maaf aku juga berpikir dulu dengan kepala dingin dan mencoba husnudzon, mungkin aja nggak semua salahnya dia, mungkin aja dia lupa, banyak permaklumanku untuk dia saat itu.

Eits, jangan dulu bahas harga diri, aku tetap punya harga diri meskipun meminta maaf duluan, justru dimata suamiku (katanya), aku terlihat lebih cantik dan berkelas kalau minta maaf duluan, sekali lagi, ceeeuuunah, bukan kataku.

Sudah dua tahun aku amalin jurus meminta ridho ini, dan selalu berhasil membuat api padam, membuat renggang jadi rapat, membuat asam jadi manis, membuat cemburu jadi semakin cinta, memang seberpengaruh itu. Tipiskan gengsi-gengsi tebal yang menyelimuti hati, kalau salah akui salah, kalau dia salah maafkanlah atau lebih dulu meminta maaf nggak ada ruginya sama sekali, justru membuatmu semakin baik dimatanya.

Saat marah, kesal, bahkan sampai benci menguasai hati, ingat lagi saat akad terucap, tujuan kita menikah adalah untuk ibadah. Semua syaithan nggak akan senang saat kita ibadah, saat kita mesra dengan suami, saat kita sholat sunnah berjamaah dengan suami, saat kita melayani kebutuhan suami, untuk itu perbanyak istighfar dan segera meminta ridho adalah cara ampuh untuk memperkecil peluang syaithan bersenang-senang dibalik kesedihan kita.

Oh iya, ada satu metode lagi yang aku dan suamiku pegang saat kami sedang diliputi rasa marah, kami pakai metode one day clear. Ada masalah di hari senin, di hari senin itu juga masalah harus selesai dan kami saling meridhoi kembali. Ada masalah hari jumat, di hari jumat itu juga kami sudah berbaikan dan bersenang-senang lagi. Masih ada rasa kesal? Gondok? Sedih? Pasti, karena aku manusia biasa yang punya perasaan, tapi aku bisa kontrol semua itu. Ingat, jangan inapkan masalah, jangan biarkan syaithan menguasai hati kita, bisa rusak kita dibuatnya.

Tetaplah jadi istri yang keren, yang nggak malu untuk meminta maaf dan meminta ridho suami. Aku mau sedikit senyum untuk kamu para istri yang gengsi minta maaf duluan karena alasan harga diri. 🙂