Langgar Itu Saksi Bisu

Cerita ini aku tulis ditahun 2011 dan aku posting di sitihajaryasiha.blogspot.com, kali ini aku mau recreate ceritanya biar lebih mudah dipahami.

Mulai ya.. Bismillaah dulu..

Namanya Farah Alfizah, dia adik kelasku. Kami bersekolah di Santa Maria School Bintaro, sudah pasti minoritas muslim. Aku sendiri beragama kristiani. Farah duduk dibangku kelas 9.1, kelas unggulan dan paling disegani, sedangkan aku kelas 10.3, kelas yang biasa-biasa saja. Kami dekat sekali, banyak yang bilang kalau ada aku pasti ada Farah. Nggak jarang aku menemani Farah ibadah dilanggar sekolah, iya disekolahku ada satu petak ruangan untuk beberapa murid dan guru muslim beribadah. Nggak jarang juga aku main kerumahnya. Kami benar-benar dekat.

Bagiku Farah itu bukan sekedar teman, dia juga seperti adik. Kalau aku diminta untuk ceritakan sosok Farah disini, nggak akan habis deh, karena dia baik sekali, aku terpesona dengan perilakunya. Farah banyak cerita tentang kesehariannya, hobinya, makanan favoritnya, makanya nggak heran kalau aku tahu semua tentang dia.

Kelas selesai pukul 14.00 ditandai bel listrik yang bunyinya bikin kuping sakit, serentak semua siswa harus mengosongkan ruang kelas, kecuali ada beberapa siswa yang mengikuti kegiatan ekstra.

Sejak kelas 7, setiap pulang sekolah Farah selalu menyuruhku untuk cepat pulang, sedangkan dia nggak langsung pulang kerumah, tapi selalu berdiam diri di langgar, padahal setahu aku waktu sholat ashar bukan pukul 14.00.

Karena ulahnya itu Farah seringkali mendapat teguran dari pihak sekolah. Aku selalu ingatkan dia kok untuk segera pulang kerumah, aku juga bertanya apa sih yang dia lakukan di langgar kecil itu. Tapi jawabannya selalu nggak memuaskan, sempat terpikir untuk mengintip, tapi aku rasa itu nggak sopan, kan?

Pada suatu siang, untuk kesekian kalinya Farah ditegur oleh Pak Darius, kepala sekolah kami. Teguran itu berujung pada pemanggilan orang tua Farah ke sekolah. Keesokan harinya aku lihat Tante Nana, ibu Farah sedang berada diruang kepala sekolah dengan wajah yang kebingungan. Seusainya, aku melihat lagi Farah dan Tante Nana duduk ditaman sekolah, mata Farah berair dan wajahnya memerah, Farah menangis.

“Kenapa Ara berbohong sama ibu?”
“Maaf, bu.”
“Ibu percaya sama Ara, Ara bilang pulang terlambat karena selalu macet diperjalanan, tapi ternyata Ara pulang begitu sore dari sekolah.”
“Ara minta maaf, bu.”
“Sebenarnya apa yang Ara lakukan disekolah?”
“Ara cuma berusaha menghilangkan kesedihan Ara.”

Hanya itu percakapan yang mampu aku dengar. Aku pikir mungkin setelah ini Farah akan rutin pulang tepat waktu.

20 Agustus 2010.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Aku dapat kabar bahwa Farah sakit Kanker Darah sejak lama. Rasanya seperti menjadi manusia terbodoh, bagaimana bisa aku nggak tahu kondisi Farah sedangkan kedekatan kami sudah seperti saudara. Pintar sekali Farah menyembunyikannya. Malam itu Farah terbaring dirumah sakit, peralatan medis sudah lengkap berada disekitar tubuh Farah. Aku nggak kuat, Tuhan. Aku nggak kuat. Jangan ambil dia, dia adikku.

Tuhan masih mendengar doaku, setalah cuti beberapa bulan dari sekolah, akhirnya Farah kembali. Semua teman-teman dan guru-guru menyambutnya suka cita. Terima kasih Tuhan, terima kasih.

Kami menjalani hari-hari seperti biasa, dengan keadaan Farah yang terbatas, aku berusaha untuk menjadi tangan dan kakinya disaat dia sulit menggunakannya. Melihat Farah yang penuh semangat untuk sehat, aku yakin Farah akan sembuh total.

Tapi Tuhan kembali membuat jantungku nggak karuan, kali ini aku hampir mati. Tengah malam aku dibangunkan oleh dering ponsel yang tak berhenti sedetikpun, padahal aku sudah tutup telinga dengan berlapis-lapis bantal.

“APA?! TUHAN!”

Hanya itu yang mampu aku ucap saat tahu Farah adik kesayanganku sudah diambil Tuhan lebih dulu. Hatiku hancur. Tak kuat aku menuliskan detik-detik kepergiannya. Biarlah Farah pergi dengan kebaikannya.
————————————————————————————————————–

Usai pemakaman itu, tangisan teman-teman belum juga reda, termasuk tangisanku. Jelas saja, mereka kehilangan sosok teman yang cantik dan pintar. Baru beberapa jam jenazah dikuburkan, aku sudah rindu. Saat aku rindu, aku nggak bisa apa-apa kecuali mengingat kenangan indah kami. Aku ingat sekali waktu aku tertiban bola basket, dia yang menggotongku ke UKS. Waktu aku nggak bawa uang jajan dan bekal, dia rela menyisihkan bekalnya untuk kami makan berdua. Ya Tuhan, Kau tega!

Sore itu aku benar-benar rindu, langkah kakiku lunglai sekali, tak ada semangat, tapi entah kenapa setiap aku melewati langgar seperti ada kehangatan yang menguatkan aku. Apa karena langgar ini adalah tempat favorit Farah?

Iseng kakiku mulai melangkah kecil, ada beberapa guru yang sedang bercengkrama, dan aku menyelinap masuk ke bagian belakang tempat ibadah putri. Aku duduk diam disana, mengenang masa-masa bersama Farah. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada satu tas berwarna hijau, nggak pakai pikir panjang, aku buka saja tas itu.

Satu buah Al Qur’an, satu buah tempat pensil dan satu buah buku diary berwarna hijau. Ketiga benda itu yang ada didalam tas hijau kecil. Aku hapal betul, Al Qur’an kecil itu pasti punya Farah, tapi diary itu milik siapa?

Beberapa helai kertas jatuh dari sisi dalam buku. Dan ya.. Inilah yang kudapati.


Ya Allah, Ya Tuhanku. Ya Allah, Yang Maha Mengetahui. Ya Allah, Yang Maha Mengetahui Hati. Ya Allah,Yang Maha Segalanya. Engkau tau kebahagiaanku, Engkau tau kesedihanku, Engkau tau keadaanku, Engkau tau perasaanku, Engkau Tuhanku Yang Maha Mengatur hidupku. Aku yakin, skenario hidupku adalah yang terbaik bagi ku. Allah, aku tidak pandai bersyukur. Tapi aku tidak pandai mengeluh. Allah, Engkau titipkan penyakit ini ditubuhku. Aku yakin, ini jalanku.


Dan,

Dear Ibu.
Assalamu’alaikum ibu. Ibu, ibu tau kan aku sayang ibu? Aku juga yakin kok, ibu pasti sayang aku kan? Ibu, maafin Ara yang selalu buat ibu sedih. maafin Ara yang selalu ngerepotin ibu. Ibu, Ara mau jadi anak terbaik yang ibu miliki. Ibu, abang-abang Ara udah buat ibu kecewa. Ayah juga udah buat ibu kecewa. Dirumah Ara selalu denger tangisan Ibu, Ara bukan untuk ditangisin. Ara kuat kok! Ara nggak mau buat ibu kecewa.


Ibu, maafin Ara yang selalu pulang sore dan berbohong sama ibu. Bu, Ara ndak pernah cerita ke siapapun tentang ini. Ara mau jujur, setiap ulang sekolah Ara ndak langsung pulang karena Ara selalu mampir ke langgar ini. Ara setiap hari selalu menghafal Al-Qur’an ditempat ini. Ara ndak bisa menghafal Al-Qur’an dirumah karena Ayah dan Ibu selalu bertengkar. Abang-abang juga berisik banget dirumah, Ara jadi nggak bisa konsentrasi menghapal.


Bu, Alhamdulillah Ara sudah hafal 21 Juz dari 30 Juz. Ibu senangkan? Sekarang ibu sudah tau kan, dikemanakan aja waktu Ara? Ara manfaatkan sisa waktu Ara untuk menghapal Al-Qur’an. Ara sayang ibu, Ara sayang Ayah, Ara sayang Abang Dito dan Abang Fahmi. Ara mau melihat kalian dari kejauhan dengan keakuran kalian. Ara mohon.

Tanpa rencana, air mataku jatuh. Nggak kuat aku membayangkan kepedihan dan kesakitan yang Farah rasakan. Aku nggak tahu harus aku apakan surat-surat itu. Haruskah aku simpan sendiri? Nggak mungkin.

Ya. Mungkin Tuhan menginginkan aku jadi tangan dan kakinya Farah lagi, kali ini tanganku bertugas untuk menyerahkan surat itu untuk keluarga Farah. Sore itu aku bertemu mereka semua, Ibu, Ayah dan kedua abang Farah. Mereka nggak tahu betapa mereka memiliki permata yang hampir pudar karena ulah mereka. Mereka nggak tahu betapa mereka sudah kehilangan anak dan adik sholeha yang banyak didam-idamkan banyak orang. Dan sekarang saatnya mereka tahu.

Saat itu tangisan kembali pecah, Tante Nana dan Om Ferdi bertatap mata, ada sebuah binar rasa bersalah yang ingin mereka luapkan. Selama ini Farah korban dari egoisnya mereka. Harusnya Farah melihat adegan Ibu dan Ayahnya berpelukan lagi setelah bertahun-tahun hidup ditengah kebencian.

Terima kasih Farah, kamu mengajarkan aku untuk tetap kuat seperti batu karang meskipun badai selalu berusaha menghancurkan, kamu mengajarkan aku untuk tetap jadi mutiara meski didasar lautan. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan aku waktu untuk berteman dekat dengan Farah. Akan aku kenang selalu, selamanya.