Berterima Kasihlah

Tulisan ini aku persembahkan untuk para suami istri yang baru menikah, satu tahun menikah, dua tahun menikah, 10 tahun menikah, atau lebih dari itu. Tapi yang paling utama untuk aku dan suamiku. Suamiku sayang, tolong baca ini dengan seksama ya, tapi kalau sudah dibaca please jangan ledekin aku, aku cuma wanita pemalu yang selalu bersandar dipundakmu, hehehe dulu ah.

Suatu hari aku dimintai nasihat oleh seorang kerabat yang hendak menikah, bukan karena aku sudah tua atau berpengalaman, melainkan aku dan dia sering saling memberi nasihat dalam kebaikan. In syaa Allaah sampai salah satu diantara kami bisa meminta langsung pada Allaah untuk memasukkan kami berdua ke surga. Hiks, sedih ya. Aku nggak mau serius-serius deh, yang ada nanti nangis sendiri.

Sebut saja dia Annisa, selepas kajian sambil minum teh tarik di pelataran mesjid Al Ihsan dia buka pertanyaan ‘dari hampir satu tahun kamu menikah, hikmah apa yang bisa kamu jadikan bekal untuk aku nanti?‘. Waktu itu tiba-tiba aku jawab ‘sering berterima kasihlah sama suamimu‘, dia sambut lagi ‘loh kenapa?’.

Aku jawab dengan singkat, tapi kata dia aku bicara dari selepas dzuhur sampai mendekati ashar, karena menurutku sepenting itu mengucapkan terima kasih pada pasangan, ada babnya sendiri.

Saat suamiku melepaskan kalimat akad didepan waliku dan kami dipertemukan, kata pertama yang aku ucapkan untuk dia adalah ‘terima kasih ya’, karena sejak saat itu aku adalah tanggung jawabnya, sampai kelak nanti kita sama-sama disurga. Aamiin Ya Rabbal’alaamiin.

Begitu berat tanggung jawabnya sebagai seorang suami, mulai dari harus bekerja keras untuk menafkahi, menggauli dengan sebaik-baiknya, menjaga aib istri, dan banyak lagi sampai yang paling berat menurutku adalah membimbing istri untuk tetap berada dijalan Allaah. Istilahnya untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri saja butuh usaha keras, tapi saat akad diucap istrinya pun jadi tanggung jawabnya. Maka berterima kasihlah, karena dia mau untuk itu dan pastinya berusaha untuk itu.

Rasulullaah Salallaahu’alayhi Wassalam bersabda ‘Allah Tabaaraka wa Ta’ala tidak sudi melihat seorang wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya padahal ia selalu butuh kepadanya.” (Hadits Riwayat An-Nasa’i)

Hei istri, ibu-ibu, embak-embak, mau sekesal apapun kita sama suami, kita tetap butuh dia, mau selelah apapun kita dirumah atau dikantor, kita tetap butuh dia, berterimakasihlah setiap hari, iya setiap hari sampai lidah kita asam kalau belum ucapkan terima kasih pada suami.

‘Tapi bagaimana kalau suamiku nanti jarang berterima kasih sama aku? Aku pasti sering sakit hati’, pertanyaan Annisa ini buat aku nggak bersuara beberapa menit, karena Annisa tipe gadis yang kritis dan punya harga diri tinggi, jadi aku harus pilih kalimat yang tepat dan benar. Jawabanku saat itu adalah ‘ikhlaskan, tapi sesekali tegurpun nggak jadi masalah kok’.

Hasil gambar untuk berterimakasih pada suami

Benar juga, nggak adil rasanya kalau hanya istri yang berterima kasih pada suami. Karena sejak akad diucap, sejak saat itu bakti istri sepenuhnya untuk suami.

Hei suami, bapak-bapak, mas-mas, lihat istrimu sekarang, dia wanita yang dijaga baik-baik oleh orang tuanya, kini sudah 24 jam dalam seminggu bersamamu, rela meninggalkan orang terkasihnya demi orang baru yang belum tentu hidup denganmu dia merasa lebih bahagia. Berterima kasihlah.

Hei suami, mungkin dulu istrimu adalah wanita berpendidikan tinggi, aktifis yang banyak giat ini itu, tapi saat menjadi istrimu dia rela melepas embel-embel sarjana dan semua yang sudah dia capai untuk memulai hidup bersamamu, berjuang dari nol besar.

Hei suami, siapakah yang membersihkan rumah sampai celana dalammu kalau bukan istrimu?

Hei suami, mungkin bagimu hamil adalah proses yang mudah dan sudah semestinya wanita merasakan itu. Tubuhnya lemah tak berdaya saat pagi-pagi merasa mual dan tak nafsu makan. Tubuhnya kini membengkak karena jarum timbangan yang terus ke kanan akibat mengandung anakmu. Lihat istrimu yang mengorbankan kecantikan perutnya, saat ini penuh dengan stretch mark. Sudahkah berterima kasih?

Hei suami, mungkin untukmu ruang persalinan adalah ruangan biasa yang tak ada artinya. Tapi bagi istrimu, ruang persalinan adalah medan jihadnya, tempat dia mengorbankan jiwa dan raga untuk bertemu buah hati dan dia pasti rela mati. Masih belum mau berterimakasih?

Hei suami, mengurus bayi nggak semudah yang dibayangkan, dia dihantui Baby Blues bahkan sampai Postpartum Depression yang bisa saja membahayakan dia dan bayimu, tapi dia tetap berjuang untuk kebahagiaanmu.

Hei suami, merawat bayimu sampai menjadi toddler yang lucu banyak tingkah itu butuh tenaga yang banyak, pikiran yang jernih dan kreatifitas tinggi. Istrimu mampu, dia bisa meskipun tanpa bantuan baby sitter kok. Berterima kasih dan dukunglah dia.

Belum lagi soal hal-hal kecil yang kamu sendiripun nggak kepikiran tapi istrimu selalu tau, letak peci atau kaus kaki misalnya, itu hal-hal receh yang mungkin nggak bernilai dimatamu, tapi bisa jadi kalau nggak ada dia, hari-harimu akan ambyar karena nyari kaus kaki aja bisa sejam.

Jangan cuma berterima kasih pada juru parkir yang hanya satu kali memarkirkan kendaraanmu, jangan cuma berterima kasih pada pelayan cafe yang hanya satu kali memberikanmu makan dan minum, jangan hanya berterima kasih pada bos atau klienmu yang hanya berkontribusi sedikit dikehidupanmu. Berterima kasih banyaklah pada istrimu, dia sangat berhak atas ucapan terimakasih itu.


Jujur nih ya, waktu lagi lelah ngurus toddler, badan rasanya mau remuk, skoliosis nggak bisa diajak kompromi, badan gerah karena banyak aktifitas kesana kemari, muka pucat karena nggak sempat dandan, tapi waktu suamiku bilang ‘terima kasih ya umma untuk semuanya’, byarrrr hatiku adem tenan, energiku rasanya full lagi, cintaku bersemi semakin subur. Uhuhu sedahsyat itu efek ucapan terima kasih. Ini hanya testimoni dari istri yang suaminya agak-sedikit-kurang peka.

Sooo. Apasih sebenarnya manfaat dari ucapan terima kasih pada pasangan? Ini hasil diskusiku dengan suami ya.

Merasa dihargai. Habis masak, suami ucap terima kasih, istri merasa usahanya dihargai. Suami pulang kerja bawa oleh-oleh meskipun cuma kacang rebus pinggir jalan, istri bilang terima kasih, suami merasa dihargai. Perasaan dihargai itu akan terus ada dan akan membuat perasaan cinta semakin besar. Indah banget kan?

Akan selalu berbuat baik dan mengusahakan yang terbaik. Kalau usaha kita dihargai dengan ucapan terima kasih dan senyum manis, besok-besok kita akan mengusahakan yang lebih baik untuk pasangan. Kalau aku dan suami sih begitu, semoga kalian juga ya.

Memperbaiki suasana hati. Pernah disebuah perjalanan aku ngambek sama suami karena suatu hal, tapi dengan cerdasnya suami usap pipiku dan ucap terimakasih, beuh mood yang ambyar jadi stabil lagi hehehe.

Jadi contoh untuk anak-anak nanti. Ingat ya, anak-anak adalah peniru ulung, berikan contoh pada anak untuk selalu ucap terima kasih pada siapapun, termasuk kepada kedua orang tuanya.