Parenting: Shanum Suka Membaca

Hulla ibu-ibu! Ditulisanku kali ini aku mau bahas tentang dunia perbukuan untuk bayi, lebih tepatnya aku mau cerita pengalamanku dan anakku.

Anyway, aku belum kenalin si manis yang sekarang lagi bobok disampingku, namanya Shanum Khairunnisa, menurut survey di instagram wajahnya lebih mirip Aba dibandingkan Umma (aku). Sejak mengandung Shanum diusia 16 minggu, aku mulai membiasakan diri lagi untuk rajin membaca. Karena sejak usia kandungan satu bulan sampai usia empat bulan aku bener-bener vakum baca buku karena morning sickness yang nggak ada ampun dan mood swing yang nyebelin. Bayangin, 16 minggu aku nggak baca buku, kering kerontang otak dan batinku ini, buibuuu. Kerjaanku waktu itu hanya muntah-muntah-muntah.

Sampai di usia kandungan 16 minggu, aku mulai lagi baca buku yang ringan dengan halaman yang sedikit, mulai menuntaskan buku-buku yang belum selesai kubaca, mulai baca-baca jurnal lagi, mulai hunting buku kehamilan sampai parenting, dan mulai menulis lagi.

Tendangan pertama Shanum di dalam rahim terasa waktu aku lagi baca buku Ensiklopedia Muslim, tendangan kecil yang hampir nggak teraba ternyata bisa aku rasain saat aku lagi santai, relax, berbaring dan mengkonsumsi buku. Ah bahagia banget waktu itu, tandanya anakku berkembang dan sehat.

Singkat cerita, setelah Shanum lahir dan masih menjadi bayi merah yang cuma bisa ngulet dan nangis, aku belum kepikiran buat beli buku cerita untuk dia, tapi setiap malam aku selalu dongengin dia dari buku yang ada diotakku, alias ngarang total. Aku cerita tentang indahnya memiliki banyak teman, bahagianya berbagi, manisnya tersenyum, dan banyak tema yang aku ceritain, tentunya dia yang jadi tokoh utama.

Tibalah saat usia dua bulan, Shanum dapat hadiah board book dari teman yang menjenguk, sejak saat itu aku mulai memperkenalkan dia dengan buku, dari yang hanya dipegang-pegang, digigit sampai basah dan hampir rusak, sampai sekarang dia bisa membolak-balik buku dengan mimik wajah yang antusias dan dengan babbling yang nyaring.

Kegiatan mendongeng dengan kemampuan mengarangku berlanjut sampai usia sembilan bulan, kepalaku sampai pusing mikirin cerita apa lagi ya yang mau aku ceritain nanti malam. Saking bingungnya aku pernah cerita tentang perjuangan Sherlock Holmes melawan musuh terbesarnya, Professor James Moriarty.

Sejak usia sembilan bulan, aku lihat Shanum antusias banget terhadap buku, sebenarnya nggak hanya dengan buku, lihat sesuatu apapun yang baru pasti dia antusias, namanya juga bayi ya. Tapi suatu waktu, aku pernah kasih dia pilihan antara buku atau mainan, dia pilih buku, percobaan kedua pilih antara buku atau makanan, dia pilih buku, sampai percobaan terakhir dia tetap pilih buku. Ma syaa Allaah.

Saat genap usianya sepuluh bulan, aku hadiahi dia beberapa buku bergambar, senangnya bukan main. Sebelum tidur selalu dibawa ditangannya, seakan-akan dia minta aku buat bacain buku itu.

Melihat keseriusan aku membacakan buku untuk Shanum dan melihat kegemaran Shanum menyeret-nyeret buku kemanapun, akhirnya terketuklah pintu dompet suamiku untuk belikan Shanum bundle book. Suamiku minta aku pilih tema buku apa yang cocok untuk anak seusia Shanum. Akhirnya aku pilih buku Halo Balita dari Mandira Dian Semesta.

Wah, waktu paket buku itu datang, dia girang banget. Bolak-balik buku itu sepanjang hari, alah lebay, maksudnya buku itu jadi favoritnya dia banget. Akupun jadi makin rajin bacain dia buku, nggak ngarang cerita lagi sampai ngaco. Sehari bisa dua sampai lima kali aku bacain dia buku Halo Balita dengan tema yang berbeda-beda. Ekspresi dia waktu dibacain ceritapun bikin gemaaas, mulai dari antusias, ingin ikut membaca, sampai berlaga dengerin serius gitu.

Shanum lagi baca buku The Fairy Tale
Sebelum tidur selalu baca buku
Di mobil juga suka aku bacain buku

Lalu, apa sih sebenarnya manfaat membacakan buku untuk bayi? Bukannya bayi belum mengerti apa-apa?

Hilangkan dulu stigma ‘bayi belum mengerti apa-apa’, dan mulai tanamkan ‘bayi akan mengerti apa yang kita ajarkan sedini mungkin’. Berikut aku share apa saja manfaat yang aku dapatkan sejak rutin membacakan buku untuk Shanum:

  1. Bonding. Posisiku waktu bacain dia buku adalah dengan mendekap dia dipangkuanku, kadang juga kami samping-sampingan, atau aku sambil duduk setengah berbaring dikasur lalu posisi dia ada dipelukan tanganku. Hal itu membuat dia merasa nyaman dan aman kalau lagi sama aku, sampai-sampai ditinggal ke toilet sebentar nangisnya kayak ditinggal perang, saking nggak mau kehilangan aku. Itu artinya bondingku sama dia kuat banget. Asik-asik.
  2. Shanum menjadi lebih responsif. Sejak dibacakan buku dengan intonasi suara yg berirama dan menampilkan wajahku yg ekspresif sambil aku tunjuk gambar yang ada di buku, Shanum terlihat lebih responsif. Kalau dia dengar aku meniru suara kucing, dia tertawa, kalau aku meniru suara harimau, dia mengernyitkan dahi dan mukul-mukul buku. Pada intinya dia merespon setiap apa yang aku baca.
  3. Mulai gemar membaca. Setiap pagi saat baru pertama kali keluar kamar, spot yang menjadi favoritnya adalah tumpukkan buku-buku, dia langsung menyerobot tumpukan buku-buku itu untuk dibolak-balik dan mengoceh sendiri. Akhirnya suamiku membelikan dia perpustakaan mini supaya buku-bukunya bisa tersusun rapi dan cantik.
  4. Memperbanyak kosa kata. Sejak Shanum aku bacakan buku dengan artikulasi yang jelas, Alhamdulillaah dia mulai bisa dengan jelas ucap Emma (umma mungkin ya), Aba, Nenek, Nenen, Mbah, dan Ibu (karena di buku Halo Balita ada tokoh ibu, mungkin dia jadi senang ngomong ibu).
  5. Mengenali emosi. Aku memperkenalkan ragam emosi melalui buku yang aku bacakan. Saat tokoh di buku sedang bahagia dan tertawa, aku contohkan apa itu tertawa, lalu Shanum ikut tertawa saat lihat aku tertawa. Saat tokoh di buku sedang menangis, aku ikut meniru dan Shanum juga jadi ikutan sedih, kalau aku tersenyum lagi, Shanum nggak jadi nangis deh. itu artinya dia mulai bisa memahami emosi.
  6. Memberikan kegembiraan. Wah kalau ini jangan ditanya, sudah jelas banget setiap aku bacain buku dia gembiranya bukan main.
  7. Meningkatkan kemampuan visual. Beberapa kali setiap aku minta dia untuk tunjuk mana kucing, dia selalu tunjuk gambar kucing yang warnanya oranye. Setiap kali aku minta dia tunjuk bentuk lingkaran, beberapa kali jawabannya benar, dan beberapa kali jawabannya salah. Nggak apa-apa, namanya juga belajar hehe.

Segitu dulu ya ceritaku malam ini, semoga bermanfaat untuk ibu-ibu sekalian dan untuk calon ibu atau bahkan calon istri. Ayo jadi pendidik berkualitas untuk anak kita, karena Al Ummu Madrasatul Ula, ibu adalah sekolah pertama anak-anaknya.

Kalau ada yang mau sharing boleh di kolom komentar, atau DM instagram. Aku open kok untuk sharing, asal nggak di jam sibuk hehe.

In syaa Allaah di next text aku mau review buku Halo Balita dari Mandira Dian Semesta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang masuk ke DM instagram. Ditunggu ya!