Alternatif Packaging Minim Sampah

Hula! Beberapa minggu ini aku lagi sibuk sama bisnis kecil-kecilan yang aku rintis sejak satu tahun yang lalu, tapi baru ngeluarin tiga produk langsung aku sudahi karena saat itu aku mulai ingin hidup berkesadaran, aku ingin produk yang aku jual nggak merugikan bumiku. So, intinya, sekarang aku sedang bangun lagi bisnis itu, tentunya dengan new concept.

Setelah bisnis ini mulai jalan lagi, ada beberapa followers instagram yang tentunya kuanggap teman bertanya; bagaimana dengan konsep packaging minim sampah yang aku pakai?

Sekarang aku jabarkan ya, semoga bisa membantu teman-teman yang mau memulai bisnis tapi nggak mau menambah beban untuk bumi.

Mengganti plastik atau polymailer dengan kardus.

Seperti yang sudah kita tahu ya, kardus adalah kemasan yang aman untuk menjaga kualitas produk selama pengiriman dan aman juga untuk bumi. Selama kardusnya polos tanpa ada lapisan mengkilapnya, bisa kok untuk dikomposkan. Oh iya, siapa yang sudah mulai mengompos? Kapan-kapan aku cerita tentang perjalananku mengompos ya!

Mengganti selotip plastik dengan another option.

Awalnya aku pakai selotip kertas untuk menggantikan selotip plastik, tapi ternyata selotip kertas itu bukan pilihan yang baik. Lem yang menempel terbuat dari bahan kimia dan nggak bisa dikomposkan. Tapi tenang, aku punya beberapa alternatif pengganti selotip plastik dan selotip kertas.

  • Kamu bisa pakai gummed tape kalau packagingmu bermaterial kardus. Gummed tape terbuat dari kertas daur ulang yang tentunya bisa dikomposkan. Cara pakainya cukup basahkan salah satu bagian yang teksturnya mengkilap, lalu tempelkan sesuai kebutuhan. Awalnya aku ragu untuk pakai gummed tape, khawatir nggak kuat dan produkku jadi ambyar berantakan, tapi ternyata kerekatannya kuat banget, loh. Beberapa testimoni teman-teman juga bilang packaging produkku aman dan gummed tapenya susah dibuka saking nempelnya.
  • Kalau paket yang akan kamu kirim berupa amplop kertas, kamu bisa pakai lem kanji atau tapioka untuk merekatkan. Caranya mudah, kamu bisa cari resepnya di youtube.

Mengganti bubble wrap dengan another option.

Aku termasuk customer yang males untuk urus sampah bubble wrap, karena aku nggak begitu suka pecahin bubble seperti kebanyakan orang kalau lagi gabut. Menurutku, itu wasting time aja, sih, dan pegel juga.

Nah, bagaimana kalau produkmu termasuk kategori fragile? Kamu bisa mengganti bubble wrap dengan beberapa pilihan ini.

  • Shredded paper atau kertas bekas yang dipotong kecil-kecil. Nggak perlu beli, cukup pakai kertas bekas yang kamu punya. Mudahkan?
  • Kardus bekas yang di design khusus menyerupai bubble wrap. By the way aku nggak tahu apa nama opsi ini, waktu aku belanja produk impor dari luar negeri via shopee, aku tertarik sama kardus bekas pengganti bubble wrap yang mereka pakai. Semoga suatu hari nanti aku temui di Indonesia.
  • Sabut kelapa. Aku belum pernah pakai opsi ini, sih. Cuma modal baca aja, katanya sabut kelapa ini menguntungkan untuk customer, karena bisa di reuse jadi sikat pembersih, kalau sudah habis masa pakainya, tinggal dikomposkan, aja, deh!

Pakai cassava bag.

Kalau memang diharuskan mengirim produk menggunakan plastik, kamu bisa pakai plastik yang terbuat dari 98% sari pati tapioka, 1% minyak nabati dan 1% bioplimer alami yang dapat dikomposkan dan dikonsumsi oleh mikro organisme dalam tanah.

Bagaimana? Banyakkan cara yang lebih menyehatkan bumi dalam mengemas produk? Yuk coba mulai di online shop kamu, semoga menular ya!