Belajar Menerapkan Waste Hierarchy

Halo halo. Tepat satu bulan aku nggak nulis disini, rindu juga. Aku lagi menyibukkan diri untuk belajar tentang less waste, zero waste, sustainable, dan teman-temannya. Ternyata asik dan bikin pikiranku terbuka luas tentang bumi yang dibuat sakit oleh tangan penghuninya sendiri, ya, oleh sampah-sampah manusia, termasuk aku.

Aku mau cerita perjalananku belajar menerapkan waste hierarchy di kehidupan sehari-hari selama dua bulan ini, teori ini aku dapat dari hasil belajar di youtube, internet dan e-book.

Setelah membaca beberapa sumber, aku menyimpulkan pengertian waste hierarchy adalah pedoman langkah agar kita lebih bijak bersikap terhadap limbah yang kita hasilkan sendiri. Nah, apa aja yang sudah aku lakukan? Yuk simak.

First, re-think!

Berpikir ulang sebelum membeli sesuatu barang atau makanan. Apakah aku butuh barang itu? Biasanya re-think ini aku terapkan sebelum belanja bulanan atau mingguan. Aku buat groceries list yang harus aku patuhi untuk menghindari obsesif impulsif saat belanja.

Biasanya aku kirim list belanja ke suamiku

Refuse.

Menolak sampah. Emang bisa? Bisa, refuse yang sudah berhasil aku lakuin adalah setiap pesan gofood aku minta ke driver untuk minim plastik, tentunya dengan cara yang sopan. Aku mulai mengurangi pemakaian sabun-sampo-detergen berkemasan. Mulai mengganti sikat gigi plastik menjadi sikat gigi bambu. Kalau pesan makanan untuk take away aku bawa rantang sendiri. Kalau dine in di restoran aku bawa straw stainless sendiri. Belanja mingguan tanpa plastik dengan pakai shopping bag sendiri. Setiap jajan bawa snack pouch sendiri.

Sabun mandi, sampo bar, detergen bar, dan sikat gigi bambu aku beli di bumijo.id

Belanja pakai shopping bag, tapi tetap nggak bisa nolak kemasan plastik yang sudah terkemas. Shopping bag dan tas serut putih aku beli di thedailyhabit.id

Minta tolong bapak driver untuk minim plastik

Tas serut, snack pouch dan ziplock pouch aku beli di demibumi.id, rantang lucu aku beli di Shopee

Reduce.

Yap! Aku lagi berusaha keras mengurangi daya konsumsi tersierku, terlebih jajan-jajan via gofood yang sebenarnya untuk menolak plastik tuh susah banget kalau ngga pinter-pinter rayu drivernya. Sejauh ini aku sudah berhasil reduce konsumsi seblak dan cireng bumbu. Sungguh sih, mereka berdua enak banget, tapi demi kesehatan dan bumiku, aku bisa mereduce mereka.

Reuse.

Seperti yang sudah teman-teman tahu, reuse artinya menggunakan kembali sampah yang masih bisa digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Biasanya aku mereuse jar-jar bekas selai untuk kepentingan lain, misalnya untuk taro berbagai macam perbumbuan, sabun, dll. Botol bekas obat aku reuse jadi vas dried flower. Gelas-gelas plastik aku reuse jadi media tanam.

Jar bekas dan botol obat bekas aku pakai lagi

Recycle.

Recycle adalah mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Karena keterbatasan kemampuan dan waktu untuk merecycle sampah anorganik, pada akhirnya bentuk pertanggung jawaban terhadap sampah anorganik yang aku hasilkan sendiri adalah dengan mengirim sampah yang sudah aku bersihkan ke beberapa recycle company. Ada beberapa recycle company yang sudah aku rangkum, bisa teman-teman intip disini.

Kemasan plastik aku kirim ke rebricks.id, jelantah aku kirim ke jelantah4change

Replant-reroot.

Sampah organik yang aku hasilkan dirumah aku jadikan kompos, ada beberapa sayuran yang aku regrow, seperti daun bawang dan wortel. Ada berbagai macam cara mengompos, tapi aku pilih yang paling mudah mengingat tingkat kemalasanku cukup menengah.

Kompos sudah satu kali panen, daun bawang sudah satu kali panen, wortel belum


Apakah mereka semua berat untuk dilakukan? Jawabanku, nggak. Asal ada kesadaran dan kemauan. Aku masih akan terus belajar dan memperbaiki yang salah, semoga kebaikan ini menular ya!

This image has an empty alt attribute; its file name is sign5.png