Shanum Nggak Beli Baju Lebaran, Nih.

Alhamdulillaah. Hari ini adalah 1 Syawalku yang berbeda dari 24 tahun sebelumnya. Kali ini hari rayaku #dirumahaja dan di Soreang, Kabupaten Bandung. Anw, taqabbalallaahu minna wa minkum, teman-teman.

Ada beberapa teman instagram yang menagih tulisan baru, katanya aku kemana aja kok websitenya sepi sekali. Jadi guys, kemarin aku lagi benar-benar berusaha untuk fokus ibadah Ramadhan, belajar mengatur waktu biar bisa melayani kebutuhan Ramadhan suami dengan maksimal, ditambah hak anak dan hak tubuh juga harus tetap terpenuhi. Jadi kegiatan menulis disini aku korbankan sementara deh.

Segitu aja pembukaannya, sekarang aku mau nulis yang lebih serius nih. Bismillaah dulu.

Tulisan ini adalah jawaban untuk kalian yang seharian ini ‘iseng’ nanya Shanum kok nggak pake baju baru? Shanum mana baju lebarannya?

Nggak kok, aku nggak baper sama pertanyaan kalian, aku tulis jawabannya disini karena nggak mungkin aku jelasin satu persatu alasanku secara langsung, kepanjangan buk!

Sebelumnya aku mau cerita dulu latar belakang keluargaku. Please di baca dengan hati yang terbuka dan legowo. Alhamdulillaah aku dibesarkan dari keluarga mampu, terpandang karena prestasi dan nama baik papa (rahimahullaah). Kami keempat anaknya selalu dimanjakan, dibelikan baju baru yang jumlahnya 3 sampai 5 pasang setiap kali lebaran, diberi jatah THR yang nominalnya nggak sedikit, liburan ke luar kota setiap kali papa ada panggilan ceramah saat Idul Fitri, dan banyak lagi fasilitas untuk kami.

Sampai akhirnya, ketika kesehatan papa menurun, penghasilan papa meredup, dan papa meninggalkan kami semua. Kami, khususnya aku yang biasa dimanja, yang biasa diberi, yang biasa dapat THR berjuta-juta saat masih kecil, kaget dengan keadaan baru, kaget saat lebaran pertama bukan THR yang aku dapatkan, melainkan uang santunan anak yatim yang isinya nggak seberapa. Aku kaget saat lebaran pertama tanpa papa aku hanya pakai baju lamaku sedangkan teman-teman pakai baju baru dan saling berbangga-bangga diri, aku nggak berani main keluar rumah, aku nggak mau diajak keliling untuk bersalaman, karena pikiranku saat itu untuk apa ada lebaran kalau nggak ada baju baru. Aku menangis, aku nggak terima, aku marah dengan keadaan, kenapa aku nggak seperti dulu lagi?

Berangkat dari pengalaman aku yang dulu, aku belajar untuk nggak membiasakan anak-anakku hidup berlebihan, terlebih saat lebaran. Alhamdulillaah, aku sudah memulainya sejak tahun lalu, saat usia Shanum 4 bulan. Tahun lalu aku hanya pakaikan Shanum baju pemberian dari teman-teman saat menjenguk. Tahun ini Shanum nggak kami belikan baju baru karena baju dilemarinya masih banyak, bersih dan layak. Pun dengan kami orang tuanya, hanya pakai baju terbaik kami di dalam lemari.

Belajar dari aku yang dulu, roda selalu berputar, bahkan nggak hanya berputar, tapi juga bocor dan rusak. Aku nggak mau anak-anakku nanti hanya mau menikmati saat kami berada di atas, tanpa tau makna saat kami jatuh jauh ke bawah. Karena mengubah kebiasaan lebih sulit dibanding membiasakan sejak dini.

Untuk itu, kami sepakat menghapus nama ‘baju baru untuk lebaran’ di keluarga kecil kami, kami ganti dengan ‘baju terbaik untuk lebaran’. Karena yang terbaik nggak harus baru. Sempat terpikir, aku pelit nggak sih jadi orang tua? Dan ini jadi pembahasan yang menarik antara aku dan suami.

Baju baru bisa di beli kapan saja saat kita butuh, nggak cuma saat lebaran, katanya.

Perlu di note, saat kita butuh.

Lalu sebenarnya bagaimana sih pandangan Islam tentang baju baru saat lebaran?

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullaah berkata, “Al Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Nafi bahwa Ibnu Umar pada dua hari raya mengenakan bajunya yang paling bagus.”

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata, “Termasuk amalan sunnah pada hari raya adalah berhias, baik bagi orang yang i’tikaf maupun yang tidak.”

Pernyataan di atas menganjurkan kita memakai pakaian terbaik saat hari raya, bukan pakaian yang baru. Mungkin kalau di lemari nggak ada pakaian terbaik untuk berhias saat Idul Fitri, bisa saja kami sekeluarga akan beli pakaian baru, tapi untuk tahun ini sebisa mungkin kami berusaha berdayakan pakaian lama kami yang masih layak dan bersih.

Lagi-lagi belajar dari aku yang dulu, aku mau membiasakan anak-anakku hidup sederhana dan seperlunya, meskipun sampai saat ini aku masih banyak belajar untuk itu.

Lagian beli baju baru untuk lebaran mau di pakai kemana sih? Kan kita masih harus #dirumahaja!

Desclaimernya belakangan, aku nggak mengatakan beli baju baru saat lebaran itu salah loh, ya! Aku hanya menghimbau untuk hindari perilaku boros, berlebihan dan mulai tanam prinsip #saveearth dengan nggak membeli banyak baju, apalagi baju berbahan sintetis yang sangat merusak bumi.