Setiap Anak Itu Berbeda

Kemarin malam sebuah pesan sampai ke layar handphoneku, rupanya dari salah seorang teman yang sedang gelisah tentang anaknya. Fyi, anaknya berusia 16 bulan 2 minggu.

‘Siha, metode parenting apa sih yang lo terapin ke anak lo? kalau gue lihat anak lo udah bisa banyak hal, anak gue belum bisa apa-apa’ (maaf gak bisa capture isi pesannya, karena menurut kami ini privacy)

Kurang lebih begitu isinya. Lalu terjadilah diskusi lumayan panjang antara kami. Setelah dipikir-pikir kayanya cocok juga untuk dijadikan ulasan disini, tentunya aku sudah mengantongi izin dari temanku ya.

Bukan, di tulisan kali ini aku nggak akan cerita metode parenting apa yang aku terapkan. Disini aku hanya mau mengingatkan diriku sendiri dan ibu-ibu diluar sana bahwa anak-anak kita yang saat ini lagi bobok, atau lagi ngoceh, lagi berantakin rumah, lagi mandi dan sebagainya, mereka adalah special kids yang Allaah kirimkan sebagai amanah, bukan untuk dibanding-bandingkan dengan anak orang lain.

Aku paham semua orang tua di dunia ini pasti menginginkan anaknya untuk tumbuh dan berkembang dengan semestinya, berat badan sesuai dengan kurva WHO, duduk tepat waktu, merangkak tepat waktu, berjalan tepat waktu, berbicara tepat waktu, tapi fakta dilapangan adalah tumbuh kembang setiap anak itu berbeda-beda, mom, bun, ma. Ada yang cepat, ada pula yang lambat.

Coba perlahan kita hilangkan kebiasaan yang sebenarnya berbahaya untuk kita sebagai orang tua dan untuk pertumbuhan anak-anak kita.

Kenapa berbahaya?

Secara psikologis, hal itu menyebabkan orang tua stress, depresi bahkan sampai psikosomatik. Aku pernah! Pernah banget. Saat berat badan anakku nggak naik selama dua bulan berturut-turut sedangkan anak-anak seusianya yang lain berbadan montok dan semok. Saat itu aku sibuk membanding-bandingkan dan berandai-andai, tapi nggak melakukan perbaikan apapun pada berat badan si cantik.

Salah, aku salah sekali. Aku stress mendengar ucapan ibu-ibu yang mengaku berpengalaman tapi mulutnya jahat, mereka bilang ‘kok anaknya kurus banget sih?!’ atau ‘nggak minum ASI, ya?’ atau yang lebih jahat lagi ‘itu si A semok banget loh, Shanum kok kurus, tapi nggak apa-apa kok tetap cantik’, oh please aku geram, kalau ingat-ingat kalimat itu rasanya mau aku sumpel aja mulut mereka.

Astaghfirullaah, bulan puasa. Oke lanjut.

Saat pengasuhnya stress dan nggak bahagia, pola pengasuhan juga nggak akan maksimal, anak-anak kita nggak mendapatkan haknya secara baik dari tangan dan hati kita. Jangan sampai, jangan sampai hal ini terjadi lagi pada aku dan pada ibu-ibu yang lain.

Lalu apa dampak buruk untuk si anak kalau orang tuanya senang membanding-bandingkan dia dengan anak orang lain?

Anak bisa stress, nggak percaya diri, rendah diri, dan yang lebih bahaya bisa-bisa mereka menarik diri dari lingkungannya. Meskipun sama dengan apa yang kita rasakan, tapi pada kenyataannya saat stress dirasakan oleh anak-anak, mereka akan sulit mengontrolnya, mereka nggak tahu apa yang sedang mereka alami, mereka hanya berperilaku sesuai dengan apa yang dirasakannya. Bisa jadi mereka selalu menangis tanpa sebab, jadi pemarah, pendiam, dan yang lebih berbahaya lagi dapat mengganggu mentalnya.


Lalu kembali ke cerita temanku, aku tanya apa yang membuat dia menilai bahwa anakku sudah bisa banyak hal. Apa jawabannya?

Sosial media

Rupanya dia sering lihat kebisaan anakku dari instagram. Padahal, nggak semua hal tentang anakku selalu aku update disana. Dan padahalnya lagi, kebanyakan yang aku upload disana adalah fun learning yang aku ajarkan untuk anakku, bukan dengan tujuan untuk berpamer-pamer ria tentang kebisaannya. Naudzubillaah tsumma naudzubillaah, nggak ada kepikiran untuk kesana.

Rupanya kebisaan anakku yang beberapa kali dia lihat membuat dia merasa insecure terhadap dirinya sendiri, dia merasa nggak bisa mendidik dan menjaga anaknya seperti ibu-ibu lain diluar sana.

Aku punya sedikit pesan untuk ibu-ibu yang sedang mengalami hal yang sama dengan temanku.

Bu, anakmu pasti punya banyak kebisaan kok, ayo bantu gali kebisaan itu dengan sering-sering memberi stimulasi. Jangan malas, harus semangat untuk jadi ibu yang kreatif dan produktif.

Bu, anak orang lain juga pasti punya keterbatasan, hanya saja keterbatasan itu jarang sekali di posting di sosial media. Aku pikir nggak mungkin seorang ibu menjelek-jelekkan anaknya, rasanya sangat jarang ibu-ibu yang memposting anaknya sedang tantrum, atau mogok makan, yang diposting pasti yang baik-baiknya saja.

Bu, jangan terlalu terbawa perasaan saat lihat anak orang lain sudah banyak bisanya. Lihat anakmu, ingat-ingat apa kebisaannya sekarang, usap-usap kepalanya, dan bersyukurlah.

Bu, rumput tetangga memang terkadang jauh lebih indah, tapi coba ingat-ingat lagi, diluar sana masih banyak yang rumahnya kering tandus tanpa rumput. Kita harus bersyukur punya anak manis seperti mereka, karena diluar sana masih banyak ibu-ibu yang sedang menunggu anugerah buah hati.

Yuk lupakan tradisi membanding-bandingkan anak, lebih baik fokus menstimulasi aspek-aspek perkembangan anak, memberikan cukup nutrisi dan segera hubungi dokter jika ditemukan gejala-gejala medis.

Yang pasti dari cerita ini aku bisa memetik sebuah hikmah.
Jangan terlalu memperlihatkan apa yang kamu punya, karena mungkin saja ada yang terlukai saat melihatnya. Salam.

Baca juga: Rasanya Shaum Bersama Shanum