Rasanya Shaum Bersama Shanum

Tulisan kali ini sih jatuhnya curhat ya ibu-ibu, mohon dimaafkan kalau nggak ada nilai edukasinya sama sekali, tapi aku harap sih selalu ada manfaat disetiap ketikanku. Semoga.

Setelah tahun kemarin aku ambil rukhsah (keringanan) untuk nggak berpuasa karena Shanum masih sangat bergantung pada ASI eksklusif, akhirnya tahun ini aku putuskan untuk berpuasa dengan catatan nggak memaksakan keadaan.

Alhamdulillaah, berpuasa nggak bikin aku malas aktifitas dengan alasan lemas karena disambi menyusui. Anggapanku, di Ramadhan ini aku sedang jalani dua kebaikan secara bersamaan yang pahalanya luar biasa; berpuasa dan tetap menyusui. Imbalan pahala besar itu yang buat aku harus terus semangat untuk jalani hari-hari di Ramadhan tahun ini.

Yes, bulan ini aku nggak mau kehilangan banyak kesempatan ibadah dengan memakai nama Shanum sebagai alasan. Big no. Aku ini orang tua yang akan jadi contoh kelak, aku harus bisa jadi teladan, begitu pikirku.

Peran yang saat ini aku jalanin adalah seorang hamba, anak, istri dan ibu. Tubuh lemah dan rapuh ini harus bisa membagi diri untuk jalani peranku sebaik mungkin. Aku pikir mudah, ternyata lelah. Kalau kata orang bijak nan shalih, nggak apa-apa lelah, asal lillaah (karena Allaah).

Baca juga: Ramadan, Aku Siap!

Dimulai dari beberapa hari sebelum Ramadhan, aku semangat untuk mengisi jurnal agar tahun ini target ibadahku tercapai, didalamnya aku tuliskan target shalat wajib-sunnah, berpuasa, zakat-infaq-shodaqoh, Qiyamul Lail, tilawah-menghapal Al Qur’an, dan banyak lagi. Aku pikir dengan segudang kebaikan itu sangat diharuskan untuk aku bisa mengatur manajemen waktu dengan sebaik mungkin.

Hari pertama berpuasa aku dibuat kewalahan dengan tingkah Shanum yang tiba-tiba jadi uring-uringan, maunya di gendong, nggak mau makan, nggak mau main. Awalnya aku pikir mungkin karena kuantitas ASI-ku berkurang, padahal aku sudah berusaha untuk boosting dengan Blackmores Pregnancy & Breastfeeding Gold, air nabeez dan rendaman madu jahe lemon. Sempat berpikir untuk berhenti puasa, aku khawatir Shanum kenapa-kenapa. Tapi setelah aku observasi, ternyata ada gigi yang sedang tumbuh dan buat dia merasa nggak nyaman.

Hari pertama kemarin jadi hari percobaan buat aku, dimulai dari coba-coba mengatur waktu bangun tengah malam untuk hidupkan malam Ramadhan, nyiapin sahur, sholat subuh, tilawah-hapalan Al Qur’an, bebenah rumah, olahraga, main-nyuapin-mandiin-nidurin Shanum, sempatin sholat dhuha, berusaha sholat dzuhur on time, sempatin qoilulah (tidur siang), bikin bekal berbuka puasa untuk suami, menyiapkan perlengkapan kerja suami, berusaha sholat ashar on time, main sore sama Shanum, bantu mama masak, ngobrol dan bercanda sama mama, dan aktifitas lainnya sampai bertemu malam dan tengah malam lagi. Padahal sebelum Ramadhan aku sudah latihan untuk aktifitas tersebut, tapi ternyata saat latihan dan praktik langsung itu rasanya beda ya, kalau latihan masih banyak santainya karena nggak ada target, kalau sekarang santainya saat mau tidur siang dan tidur malam aja.

Hasil dari percobaan tersebut adalah ‘sepertinya’ aku berhasil membagi waktu. Setumpuk aktifitas itu bisa aku lakukan dalam 24 jam. Lelah sih memang, tapi surga bukan untuk orang yang santai dan rebahan doang, kan?

Malamnya, aku menangis. Bukan karena kelelahan, tapi karena aku bersyukur masih bisa merasakan Ramadhan dengan kesibukan yang luar biasa asiknya, ditambah lagi puasa kali ini ditemani Shanumku sayang. Aku juga bersyukur, dalam jurnal Ramadhanku nggak ada agenda buka puasa bersama disana-sini, jadi aku bisa fokus untuk Ramadhan #dirumahaja. Aku harus benar-benar maksimal di Ramadhan ini, karena bisa jadi ini Ramadhan terakhirku.

Hari kedua sampai keempat, aktifitasku mulai tersusun rapi sesuai jadwal meskipun masih sering dijaili oleh tingkah Shanum yang nggak terduga. Aku sudah paham ‘jam segini aku harus ngapain, sebentar lagi aku harus melakukan ini, sudah waktunya aku untuk ini dan itu’. And now I want to share how to manage my time.

(Ditengah perjalanan menulis curhat ini tiba-tiba ingin berbagi tips yang bikin aku merasa berhasil dalam mengatur waktu, akhirnya ada sedikit manfaat ditulisan kali ini). Langsung yuk!

Prioritaskan aktifitas wajib

Sebenarnya ini sudah aku lakukan sejak Shanum mulai nggak bisa diam, pabalatak kamana wae. Dari yang dulunya aku masih suka berpikir ‘aduh, Shanum masih main dan butuh aku awasi, sholat dzuhurnya nanti dulu deh tunggu Shanum agak calm down‘ aku ubah jadi ‘aku harus bisa mengatur Shanum biar aman tanpa pengawasanku sebentar, supaya sholat dzuhurku bisa on time’. Alhasil yang aku lakuin saat mau sholat adalah buat Shanum tenang dan kenyang dengan duduk dikursinya sambil menghadap aku yang sedang sholat, tentunya dengan cemilan favorit dia.

Jangan lakukan hal yang sia-sia

Berhaha-hihi di whatsapp, scroll instagram sampai pusing mata, goyang tiktok sampai encok, nonton drakor berjam-jam, ngobrol sana-sini sama tetangga, buang-buang waktu dengan tidur seharian. Aku tau butuh usaha yang kuat untuk menguranginya, karena sehari-hari hidup tanpa gadget bagai ikan asin tanpa sambal. Tapi untuk saat ini, bulan ini, bulan penuh maghfirah, bulan penuh rahmat dan berkah, kesempatan pahala berlipat ganda, coba kurang-kurangi aktifitas yang sia-sia.

Akupun sama, pelan-pelan aku buat hari-hariku lebih bermakna tanpa berlama-lama bergadget ria. Biasanya kalau Shanum bobo aku sempetin buka instagram lebih dari setengah jam, sekarang lebih milih waktu setengah jam itu dipakai untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Aku berusaha ganti aktifitas itu dengan amalan yang sedikit tapi rutin, bisa dengan sholat dhuha, tilawah Al Qur’an, baca buku, menulis. Syukur-syukur kebiasaan baru ini jadi habit setelah Ramadhan nanti.

Jangan menunda-nunda aktifitas baik

Duh jangan deh, apalagi kalau sudah punya agenda yang terjadwal, bisa-bisa jadwal yang tersusun bisa berantakan hanya karena menunda-nunda.

Focus on the target

Salah satu tujuan aku tulis jurnal Ramadhan adalah agar aku bisa fokus dengan target Ramadhanku. Percaya deh, menuliskan keinginan bisa meningkatkan fokus pencapaian. Dengan punya target, aku jadi memaksakan ibadah, karena memang sejatinya ibadah harus dipaksakan. Kalau nggak dipaksa, ya mau kapan?


Karena baru hari ke empat dan masih ada in syaa Allaah 26 hari lagi, aku berdoa semoga aku bisa sekonsisten dan seistiqomah itu untuk jalani tips diatas. Semoga bermanfaat juga untuk teman-teman, ya. Sekarang sudah jam 12 malam, sudah batas maksimal toleransi aku untuk tidur malam. Thank you!