Intip 13 Tips Mudah Menulis Buku Untuk Pemula

Aku share tips ini sesuai dengan apa yang aku lalui, nggak nyontek tips ala-ala di internet. Tulisan ini aku persiapkan untuk teman-teman yang masih suka tanya cara menulis buku untuk pemula, misalnya ini :

Pertanyaan dari akun instagram @fadi.fadiasa

Pertanyaan dari akun instagram @nisakhairu_

Baca juga: Catatan Usang Untukmu Sayang

Langsung aja ya ke tips pertama, yuk!

Banyak baca buku

Bukan hanya aku, beberapa teman yang menyukai bidang kepenulisan biasanya juga gemar baca buku. Membaca buku membuka wawasan tentang apa yang terjadi diluar dari lingkup kita, membaca buku menambah pembendaharaan kata, dengan membaca buku sama saja dengan mengundang inspirasi, membaca buku membuat banyak orang yang menyukainya ingin ikut terbang merangkai diksi.

Pada intinya, biasanya orang yang suka baca buku juga suka menulis, pun sebaliknya. Gitu. So, kalau kamu mau menelurkan sebuah karya tulis, usahakan dulu untuk gemar membaca biar karyamu nampak berisi, nggak hanya tulisan kosong tanpa makna. Kalau bisa, loh ya.

Passion adalah nyawa penulis, temukan itu!

Temukan passion menulismu. Menulis itu mudah kok, asal passion, asal hobi, asal suka. Menurutku sih seperti itu. Semua orang bisa menulis, tapi nggak semua orang bisa menyampaikan isi hati, kegelisahan, beban pikiran melalui tulisan. Kalau memang benar passionmu adalah menulis, yuk lanjutin baca tips dari aku.

Menulis itu mudah

Nggak semua orang yang punya passion menulis memiliki kemampuan diksi yang baik. Tips selanjutnya, buang jauh-jauh pikiran bahwa menulis itu sulit dan harus pakai teknik. Kalau jurusan kuliahmu adalah Sastra Indonesia, mungkin teknik kepenulisan akan sangat diperhatikan sejak awal menulis. Tapi untuk kamu yang bukan orang sastra, please tulis aja apa yang mau kamu tulis, jangan dulu pikirkan kaidah penulisan.

Perihal diksi, teknik dan kaidah penulisan bisa kamu pelajari saat kamu berpetualang membuka cakrawala dengan membaca buku.

Tentukan genre tulisanmu

Nggak cuma lagu, buku juga banyak genrenya. Menurut buku sastra yang pernah aku baca, sastra memiliki 4 genre, yaitu drama, fiksi, non fiksi dan puisi. Dari 4 genre itu memiliki subgenre yang biasa kita kenal dengan novel, cerita pendek, biografi, autobiografi, narasi, kumpulan puisi sampai lirik lagu. Ada baiknya kenali dulu beragam subgenre agar lebih mudah menentukan konsep naskahmu. Atau kamu sudah menentukan konsepnya? Cakep! Yuk lanjut ikutin tipsnya.

Buat kerangka cerita singkat yang beralur

Saat aku akan mulai menulis, biasanya aku akan buat alur cerita dari awal sampai akhir. Fungsinya untuk mengikat ide. Biasanya, alur cerita yang aku buat seperti rangkuman dari bab ke bab dengan menggunakan bahasa sehari-sehari supaya lebih dipahami.

Misal, aku kasih sedikit gambaran.

Bab 6. Pada bab ini Mawar ketemu sama Sopian mantan kekasihnya. Sopian ngajak Mawar ngobrol disebuah cafe. Tapi Mawar menolak karena dia udah hijrah.Bab 7. Pada bab ini Sopian merasa penasaran kenapa kok Mawar nolak ajakannya, lalu Sopian cari tau apa yang terjadi sama Mawar.
Bab 8. Bab ini menceritakan tentang Mawar yang ngomong sama Sopian kalo dia udah hijrah biar Sopian ngerti kalau Mawar ngga mau diajak hang out berduaan lagi karena bukan mahram.Bab 9. Di bab ini Sopian malah nggak bisa move on dari Mawar, dia malah mau nikah sama Mawar, dia datang ke orang tua Mawar untuk melamar.

Lihat, itu cara aku buat kerangka cerita, nggak pakai bahasa baku edebre-edebre, cukup pakai bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, bahkan seringkali aku temui typo di kerangka ceritaku. Nggak apa-apa kok, itu hanya blue print.

Diskusikan kerangka tulisan dengan orang terdekat

Cara ini aku lakukan untuk brain storming, dengan diskusi aku tau bagaimana respon orang lain terhadap ide ceritaku, syukur-syukur bisa dapat masukan atau tambahan ide biar ide kamu lebih kaya lagi. Tapi ingat ya, kamulah penulisnya, kalau ide dari orang terdekatmu nggak cocok dengan naskahmu, jangan dipakai, cukup hargai idenya aja.

Baca juga : Muslimah #1

Mulai menulis

Langkah selanjutnya, kerangka cerita yang sudah kamu buat sebelumnya adalah modal kamu untuk membuat sebuah naskah. Dalam proses menulis ini, abaikan dulu pengecekan paragraf atau typo secara berkala, karena hal itu membuat tulisanmu nggak selesai-selesai.

Oh iya, saranku untuk penulis pemula, coba dulu untuk buat kumpulan cerita pendek yang bertema. Menurutku novel dan cerpen memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, cerpen hanya butuh satu atau dua konflik lalu diakhiri dengan solution and conclusion, sedangkan untuk novel biasanya membutuhkan lebih dari dua konflik untuk membangun alur cerita biar lebih plot twist. Tapi kalau teman-teman lebih suka menulis novel dari pada cerpen, mangga aja berkreasi.

Konsisten menulis

Inilah tahap yang sulit dilalui banyak orang. Semua tips diatas nggak akan bisa jadi buku kalau kamu nggak konsisten menulis. Penyakit seorang penulis pemula adalah seringnya muncul ide baru yang tiba-tiba mendistract. Iya nggak sih? Makanya di laptopmu banyak naskah-naskah yang belum selesai karena ditengah perjalanan kamu menemukan ide cerita baru. Jangan dong sayang, fokus pada satu kerangka cerita sampai selesai, ya.

Saat ide-ide cerita baru muncul waktu lagi proses menulis naskah, bisa kamu siasati dengan tulis dulu ide yang muncul tiba-tiba itu di halaman baru. Kalau nanti naskah sebelumnya sudah selesai, kamu bisa kembangkan ide tersebut jadi kerangka cerita baru. Pokoknya, selesaikan apa yang sudah kamu mulai lebih dulu. Jangan buang-buang waktu.

Tips untuk konsisten menulis akan aku ulas di post selanjutnya ya.

Sambil merampungkan naskah, coba larak-lirik penerbit

Ada dua cara yang aku lakukan untuk cari tahu tentang penerbit.

  • Cara pertama yang nggak pakai modal adalah cari di google dengan keyword ‘macam-macam penerbit novel (atau sesuai dengan genremu)’.
  • Cara kedua yang nggak gratis adalah pergi ke Gramedia, pilih area buku yang sekiranya mirip-mirip dengan naskahmu, cari buku yang diterbitkan oleh penerbit incaranmu, lalu beli satu atau dua buku untuk mempelajari kriteria naskah yang disukai penerbit incaranmu.

Selesaikan naskah dengan target

Ini penting banget sih menurutku, dengan adanya target bikin kamu nggak santai-santai terus yang akhirnya bikin naskahmu terbengkalai. Kalau bisa tentukan dalam sehari kamu mau nulis berapa lembar atau berapa bab. Ingat loh, semakin cepat naskah selesai, semakin cepat juga kamu bisa kirim naskah itu ke penerbit.

Review naskah

Kalau sudah selesai, kamu bisa baca satu atau dua kali lagi naskahmu. Fungsinya untuk tahu letak typo, membenarkan kaidah penulisan, dan yang lebih penting untuk cari tahu apakah naskah sudah sesuai dengan kerangka tulis atau belum. Coba ajak satu teman untuk baca naskahmu dari awal sampai akhir, lalu minta dia untuk beri saran dan kritik. Tapi ingat, lagi-lagi kamu adalah penulisnya, saran dan kritiknya bisa kamu pakai atau nggak, bebas terserah kamu.

Kirim naskah ke penerbit yang sudah kamu cari tahu

Yes, sudah hampir ke tahap akhir. Ucap bismillaah sebelum kirim naskah, siapa tahu naskahmu terpilih dan jadi best seller! Oh iya, untuk mengenali penerbit aku punya beberapa tips yang akan aku share juga di next post.

Percaya diri dengan karyamu sendiri

Kalau kamu yakin naskahmu sarat akan isi dan makna, kalau kamu yakin sudah mengerahkan segenap kemampuan menulismu, kalau kamu yakin ada manfaat didalam naskahmu, kalau kamu yakin naskahmu orisinil, langkah terakhir adalah percaya diri dan berserah pada Allaah. Di publish atau nggaknya naskahmu nanti, itu soal belakangan, yang terpenting saat ini kamu adalah penulis untuk dirimu sendiri dan beberapa orang yang membaca karyamu.


Kurang lebih inilah yang aku sampaikan ke beberapa orang yang bertanya-tanya cara menulis buku untuk pemula. Sekian dulu ya tips recehan dari aku, good luck!

Baca juga : Hijab Love Stories (FSLDK Indonesia)