Rasanya Jadi Warga Bandung

Setiap kali kumpul dengan teman-teman di Bekasi, selalu ada pertanyaan ‘gimana jadi orang Bandung?’, ‘betah ya di Bandung?’ dan banyak lagi. Aku ceritain disini ya bagaimana kesanku hidup di Bandung.

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandung waktu ikut acara kompetisi Psikologi di Universitas Kristen Maranatha, hanya tiga hari dua malam tapi menyenangkan. Sampai-sampai dalam hati aku bilang ‘suatu saat nanti mau banget tinggal disini’, dan Alhamdulillaah kesampaian, sejak tanggal 7 Maret 2018 aku resmi tinggal di Soreang, Kabupaten Bandung. Tepatnya empat hari setelah menikah.

Aku ini anak bungsu yang nggak pernah jauh dari mama, waktu belum menikah jam delapan malam belum ada dirumah mama sudah calling-calling, kalau nggak diangkat ngambeknya luar biasa, huhu love you ma!

Sekalinya jauh dari mama ya diajak nikah sama laki-laki yang dinasnya di Bandung. Kalian pasti pahamkan rasanya kehilangan bagaimana? Dulu setiap malam aku nangis ingat mama, mamapun begitu katanya, selalu nangis ingat aku, berharap aku pulang dan tidur lagi disamping mama. Btw iya, aku masih tidur sama mama, mulai pisah kamar sebulan sebelum nikah, biar mama mulai terbiasa tidur tanpa aku. Uh mellow deh.

Tapi drama nangis-nangisan itu cuma beberapa minggu kok, selebihnya aku mulai terbiasa setiap hari tanpa embel-embel mama, mulai terbiasa bangun pagi untuk siapin sarapan sendiri dan untuk suami, siapun pakaian suami. Aku memang semanja itu, tapi aku sudah lebih mandiri sejak menikah.

Lanjut ya..

Warga Bandung tuh ramah-ramah banget loh, sopan pula.

Mungkin karena disini kental dengan Budaya Sunda yang lembut ya. Pernah suatu hari aku dan suami nanya arah jalan ke pemuda yang aku pikir dia itu anak jalanan karena tampilannya yang semi-metal gitu. Ternyata waktu ngobrol sama dia, ya atuh lembut pisan tutur katanya, sopan banget. Kurang lebihnya begini, ‘oh iya mangga teh kalau saya tau saya bantu’, ‘oh teteh tinggal lurus aja 100 meter dari sini, terus belok kiri, rumahnya ada disebelah kanan yang pagar biru’, ‘mangga teh sami-sami’.

Oh iya yang lucunya, beberapa kali aku dan suamiku hampir diserempet motor, pas suami mau marah-marah, yang mau nyerempet itu berhenti untuk minta maaf dan senyum. Terus suamiku bilang ‘ya Allaah gimana mau marah ya, orangnya sopan banget‘, akhirnya damai. Nggak cuma sekali dua kali, beberapa kali kejadian kayak gini.

Bahkan belum lama ini ada kejadian mobil suamiku sedikit nyenggol mobil depan. Aku yang panik, suamiku tetap santai. Kami dan mobil didepan melipir ke pinggir jalan untuk cari solusi. Sebelum turun dari mobil, aku pesan sama suami gini ‘sayang, inget ya bawa anak istri, jadi harus sabar’, kata dia ‘apaan sih kaya mau perang aja’, dia nggak tau guys jantungku kaya bedug maghrib.

Pas suamiku turun, pemilik mobil yang kami senggol juga turun, yang keluar ternyata bapak-bapak dua orang berbadan tegap, berkulit gelap, bertopi, ada codet dipipinya, pakai rantai dompet, sungguh aku nggak bohong. Aku khawatir suamiku dikeroyok. Aku baca doa dalam mobil, super tegang sampai mules. Ternyata akhirnya mereka salaman dan saling memaafkan tanpa ada keluar uang sepeserpun. Uh cinta deh sama orang-orang sopan dan mengakui kesalahan tanpa ada baku hantam.

Ada lagi cerita lain, jadi aku sempat kaget waktu baca isi chat suamiku dengan teman-teman kantornya (laki-laki). Mereka chating dengan panggilan aku-kamu, di Bekasi mana pernah aku denger laki-laki panggil aku-kamu sama laki-laki juga, yang ada malah ‘eh panjul mau kemane lu?’, ‘woy rojali sini lah maen!’. So sorry, bukan mendiskreditkan bahasa Bekasi, tapi ya iyakan? Akupun begitu soalnya, nyablaque is my lyfe.

Awalnya aku pikir ‘ih kok aku kamu gini sih?’, pas aku tanya suamiku ternyata teman-teman suamiku mayoritas orang sunda atau lama tinggal di tanah sunda, jadi mereka memang dari sananya sudah lembut begitu, jadilah suamiku yang beradaptasi dengan cara bergaul teman-temannya. Aku suka kesopan-santunan. Kelemah-lembutan. Lama kelamaan akupun biasa kalau baca chat teman suami kaya gini ‘hari ini kamu masuk nggak?’, ‘kang punten aku sakit’.

Kalau soal makanan, aku punya best categories.

Cilok. Baso aci. Seblak. Tiga serangkai yang membuat hari-hariku di Bandung lebih indah. Aku suka banget hunting jajanan receh ini. Kenapa ya ketiga makanan ini lebih enak kalau dimakan di Bandung? Pertama kali cobain seblak asli Bandung di daerah Nata Endah, Kopo, dan itu enakkk banget, tapi sayangnya sekarang nggak ada lagi. Cedi..

Eh satu lagi, Tutug Oncom Gading Tutuka! Suer itu enak banget! Lalapan, sambal dan ikan asinnya mantap.

Soal wisata, tempat tinggalku ini sekitar 17 KM dari kawasan wisata Ciwidey.

Ada Kawah Putih, Ranca Upas, Pemandian Air Panas Ciwalini, Pemandian Air Panas Cimanggu, dan cafe-cafe hits di Ciwidey. Kalau nggak macet cuma butuh waktu sekitar 30 menit dari tempat tinggalku ke kawasan wisata di daerah Ciwidey. Awal-awal tinggal di Bandung mikirnya wah enak ya bisa tiap minggu pergi wisata, tapi ternyata bosan juga ya.

Di Bandung juga banyak mall besar yang nggak kalah hits dari Bekasi.

Nah, anehnya kalau ketempat wisata alam aku sering bosan, tapi kalau ke mall nggak ada bosannya, kalau kata suami ‘nasib nikah sama orang kota, maunya ke mall terus‘, padahal nggak juga sih, di Bekasi aku jarang ngemall kok.

Beberapa mall yang sudah aku kunjungi di Bandung; Miko Mall, ini mall terdekat dari rumah, nggak begitu besar, kalau di Bekasi mirip sama Grand Mall, biasanya kesini kalau mau belanja ke Informa, Mr. DIY, Ace Hardware, jajan chatime atau nonton di CGV. Paskal 23 Shopping Centre, posisinya dekat banget dari Stasiun Bandung, biasanya kesini untuk baby spa anakku di Mom N Jo. Paris Van Java, aku ke PVJ cuma untuk mampir ke Sephora, innisfree dan beberapa drug store lainnya, kalau nggak ada kepentingan banget aku sedikit menghindari PVJ karena biasanya jalanan padat merayap, makan waktu banget. Bandung Indah Plaza, biasanya kalau mau belanja di The Executive, aku pasti ke BIP. Bandung Electronic Centre, tempatnya suami beli PS 3 dan 4, tempatnya aku beli handphone. Cihampelas Walk, biasanya kesini untuk nonton di XXI dan beli Wardah. Trans Studio Mall, jarang kesini karena cukup jauh dari rumah, pernah kesini untuk ke Gramedia dan belanja di Transmart. Festival Citylink, biasanya kesini untuk beli parfum di C&F, just it, sisanya makan di Pizza Hut dan ngopi cantik di JCo. Ada satu lagi mall baru yang hampir sebulan dua kali aku kunjungin, yaitu Sumbersari Junction, tempat belanja keperluan rumah tangga. Masih banyak mall di Bandung yang belum aku kunjungin, dan kemungkinan dalam waktu dekat akan aku kunjungin.

Bahasa Sunda itu gampang-gampang susah.

Hampir dua tahun disini, kosa kata sunda yang aku bisa cuma ceunah (katanya), mereun (mungkin, kali), sakeudap (sebentar), tingali (lihat), muhun (iya), hatur nuhun (terima kasih), sami-sami (sama-sama), dan ada beberapa lagi. Suamiku hampir 6 tahun disini bahasa sundanya sudah fasih, lancar pisan. Aku sih berharap semoga suatu saat nanti bisa bahasa sunda minimal ngerti apa arti dari percakapan orang lain, biar aku nggak loading, telat mikir.

Pemandangan depan rumah yang cantik.

Tempat tinggalku menghadap langsung dengan gunung Patuha, tiap pagi dan petang pemandangannya cantik sekali, kalau lagi berkabut gunungnya sampai nggak terlihat, kalau nggak berkabut gunungnya nampak jelas warna hijau dan kalau malam gunungnya berubah jadi bintang-bintang buatan dari lampu-lampu rumah warga.

Suhu disini ya nggak sepanas di Jadetabek, kalau jam empat sampai jam enam pagi suhunya sekitar 18-22 derajat, kalau mulai siang dan sedang nggak hujan ya sekitar 25-28 derajat. Satu tahun pertama aku nggak punya kipas angin, karena ya nggak panas dan nyaman.

Inilah penampakan didepan rumah sekitar jam 05.30, cantik sekali

Ada sedihnya.

Aku kurang bersosialisasi diperumahan ini, mereka sibuk kerja dan sepertinya nggak ada yang pengangguran, kalaupun ada merekapun jarang keluar, akunya juga jadi jarang main keluar. Dulu aku ini ekstrovert, sering bergaul, nggak betah sepi, sekarang semenjak nggak dekat sama tetangga jadi ngerasa sepi banget, malah kalau lagi kesepian suka mikir ini aku lagi ada di planet mana sih??? Makanya setiap suami libur girangnya bukan main, karena bisa main keluar ketemu banyak orang. Ditambah sekarang punya bidadari mungil yang periang dan aktif, cukup mengusir kesepian.

So far, pada intinya, aku sangat nyaman hidup di Soreang yang kualitas udaranya masih cukup baik, makanannya enak-enak dan murah, banyak wisata alamnya, warganya lembut dan sopan. Kenyamanan aku dilengkapi dengan keluarga kecil yang selalu support aku, selalu ada saat aku happy dan sedih, sehat dan sakit, semoga selamanya bersama. Aamiin, in syaa Allaahu.

Buat teman-teman yang mau ke arah Ciwidey, boleh kok main-main ketempat tinggalku sekarang, dengan syarat mudah; kenal. Luv!